Selasa, 10 Maret 2015

kata



Pengertian Kata
Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggap sebagai bagian terkecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah bagian terkecil dari kata yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi ke bentuk yang lebih kecil.
7 Kelas Kata
Kata Benda (Nomina)
Kata benda (nomina) adalah kata-kata yang merujuk pada bentuk suatu benda, bentuk benda itu sendiri dapat bersifat abstrak ataupun konkret.dalam bahasa Indonesia kata benda (nomina) terdiri dari beberapa jenis, sedangkan dari proses pembentukannya kata benda terdiri dari 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Benda (Nomina) Dasar: Kata benda dasar atau nomina dasar ialah kata-kata yang yang secara konkret menunjukkan identitas suatu benda, sehingga kata ini sudah tidak bisa lagi diuraikan ke bentuk lainnya. Contoh : buku, meja, kursi, radio, dll.
  2. Kata Benda (Nomina) Turunan: Nomina turunan atau kata benda turunan ialah jenis kata benda yang terbentuk karena proses afiksasi sebuah kata dengan kata atau afiks. Proses pembentukan ini terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :
    1. Verba + (-an) contoh: Makanan.
    2. (Pe-) + Verba contoh: Pelukis.
    3. (Pe-) + Adjektiva contoh: Pemarah, Pembohong.
    4. (Per-) + Nomina + (-an) contoh: Perbudakan.
Kata Kerja (Verba)
Kata kerja atau verba adalah jenis kata yang menyatakan suatu perbuatan. Kata kerja dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
  1. Kata Kerja Transitif: Kata kerja transitif merupakan kata kerja yang selalu diikuti oleh unsur subjek, contoh : membeli, membunuh memotong, dll. Dilihat dari segi bentuknya kata kerja transitif dapat dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu: Kata kerja transitif berimbuhan dan kata kerja transitif tak berimbuhan.
  2. Kata Kerja Intransitif: Kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap. Seperti kata tidur untuk contoh kalimat berikut: saya tidur, pada kalimat tersebut kata tidur yang berposisi sebagai predikat (P) tidak lagi diminta menerangkan untuk memperjelas kalimatnya, karena kalimat itu sudah jelas.
Di dalam Bahasa Indonesia ada 2 dasar dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena telah memiliki makna, dan bentuk dasar yang berafiks atau turunan. dari bentuk verba ini dapat dibedakan menjadi :
  1. Verba Dasar Bebas: ialah verba yang beruba morfem dasar bebas, misalnya: duduk, makan, mandi, minum, dll.
  2. Verba Turunan: ialah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem.
Beberapa bentuk verba turunan :.......................................
1.      Verba berafiks : berbuat, terpikirkan, dll.
2.      Verba bereduplikasi : bangun-bangun, ingat-ingat, dll.
3.      Verba berproses gabungan : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, dll.
4.      Verba majemuk : cuci mata, cuci tangan, dll.
Kata Sifat (Adjektifa)
Kata sifat ialah kelompok kata yang mampu menjelaskan atau mengubah kata benda atau kata ganti menjadi lebih spesifik. Karena kata sifat mampu menerangkan kuantitas dan kualitas dari kelompok kelas kata benda atau kata ganti.
Ciri-ciri Kata Sifat
  1. Kata sifat terbentuk karena adanya penambahan imbuhan ter- yang mengandung makna paling.
  2. Kata sifat dapat diterangkan atau didahului dengan kata lebih, agak, paling, sangat & cukup.
  3. Kata sifat juga dapat diperluas dengan proses pembentukan seperti ini : se- + redupliasi (pengulangan kata) + -nya, contoh : sehebat-hebatnya, setinggi-tingginya, dll.
Beberapa Proses Pembentukan Kata Sifat
  1. Kata sifat yang terbentuk dari kata dasar, misalnya: kuat, lemah, rajin, malas, dll.
  2. Kata sifat yang terbentuk dari kata jadian, misalnya: terjelek, terindah, terbodoh, dll.
  3. Kata sifat yang terbentuk dari kata ulang, misalnya: gelap-gulita, pontang-panting, dll:
  4. Kata sifat yang terbentuk dari kata serapan, misalnya: legal, kreatif, dll.
  5. Kata sifat yang terbentuk dari kata atau kelompok kata, misalnya: lapang dada, keras kepala,baik hati, dll.
Kata Ganti (Pronomina)
Kelompok kata ini dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan. Kelompok kata ini dapat dibedakan menjadi 6 bentuk, yaitu:
  1. Kata Ganti Orang: ialah jenis kata yang menggantikan nomina. Kata ganti orang dapat dibedakan lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:
    1. Kata ganti orang pertama tunggal, misal: aku, saya.
    2. Kata ganti orang pertama jamak, misal: kami, kita.
    3. Kata ganti orang kedua tunggal, misal: kamu, Anda, kau/engkau.
    4. Kata ganti orang kedua jamak, misal: kamu, kalian.
    5. Kata ganti orang ketiga tunggal, misal: dia, ia, beliau.
    6. Kata ganti orang ketiga jamak, misal: mereka.
  2. Kata Ganti Kepemilikan: ialah kata ganti yang dipakai untuk menyatakan kepemilikan, misal: “buku kamu/bukumu”, “buku aku/bukuku”, “buku dia/bukunya”,dsb.
  3. Kata Ganti Penunjuk: ialah kata ganti yang dipakai untuk menunjuk suatu tempat atau benda yang letaknya dekat ataupun jauh, misal: “di sini”, “di sana”, “ini”, “itu”, dsb.
  4. Kata Ganti Penghubung: ialah kata ganti yang digunakan untuk menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat kata yang dipakai yaitu: “yang”, “tempat”,”waktu”.
  5. Kata Ganti Tanya: ialah kata ganti yang dipakai untuk meminta informasi mengenai sesuatu hal, kata Tanya yang dimaksud ialah “apa”, “siapa”, “mana”.
  6. Kata Ganti Tak Tentu: ialah kata ganti yang digunakan untuk menunjukkan atau menggantikan suatu benda atau orang yang jumlahnya tak menentu (banyak), misal: masing-masing, sesuatu, para, dsb.

Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan adalah jenis kata yang memberikan keterangan pada kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan bahkan mampu memberikan keterangan pada seluruh kalimat. Kata keterangan dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata Keterangan Tempat: ialah jenis kata yang memberikan informasi mengenai suatu lokasi, misal: di sini, di situ, dll.
  2. Kata Keterangan Waktu: ialah jenis keterangan yng menginformasikan berlangsungnya sesuatu dalam waktu tertentu, misal: sekarang, nanti, lusa, dll
  3. Kata Keterangan Alat: ialah jenis kata yang menjelaskan dengan cara apa sesuatu itu dilakukan ataupun berlangsung, misal: “dengan tongkat”, “dengan motor”, dll.
  4. Kata Keterangan Syarat: ialah kata keterangan yang dapat menerangkan terjadinya suatu proses dengan adanya syarat-syarat tertentu, misal: jikalau, seandainya, dll.
  5. Kata Keterangan Sebab: ialah jenis kata yang memberikan keterangan mengapa sesuatu itu dapat terjadi, misal; sebab, karena, dsb.
Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan ialah jenis kelompok kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, urutan sesuatu yang dibendakan. Kata bilangan juga dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Kata bilangan tentu, contoh: satu, dua, tiga, dst.
  2. Kata bilangan tak tentu, contoh: semua, beberapa, seluruh, dll.
  3. Kata bilangan pisahan, contoh: setiap, masing-masing, tiap-tiap.
  4. Kata bilangan himpunan, contoh: berpuluh-puluh, berjuta-juta.
  5. Kata bilangan pecahan, contoh: separuh setengah, sebagian, dll.
  6. Kata bilangan ordinal/giliran, contoh: pertama, kedua, ketiga, dst.
Kata Tugas
Kata tugas ialah kata yang memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas juga memiliki fungsi sebagai perubah kalimat yang minim hingga menjadi kalimat transformasi. Dari segi bentuk umumnya, kata-kata tugas sukar mengalami perubahan bentuk. Kata-kata seperti : dengan, telah, dan, tetapi dan sebagainya tidak bisa mengalami perubahan. Tapi, ada sebagian yang bisa mengalami perubahan golongan kata ini jumlahnya sangat terbatas, misalnya: tidak, sudah kedua kata itu dapat mengalami perubahan menjadi menidakkan & menyudahkan.
Ciri-ciri Kata Tugas
Ciri dari kata tugas ialah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang dapat diturunkan menjadi mendatangi, mendatangkan & kedatangan. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab & sampai tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang membentuknya sama tapi kategorinya berbeda.
Jenis-jenis Kata Tugas
  • Preposisi (kata depan): ialah jenis kata yang terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya : dari, ke & di. Ketiga kata depan ini dipakai untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat. Contoh : Di Jakarta, di rumah, ke pasar, dari kantor.
  • Konjungsi (kata sambung): ialah jenis kata yang dapat menggabungkan 2 satuan bahasa yang sederajat, misalnya : dan, atau & serta. Jenis kata tugas yang mampu menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi (kata sambung) dapat dibagi menjadi 4, yaitu:
  1. Konjungsi Koordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama contoh: dan, atau & serta.
  2. Konjungsi korelatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 kata, frasa atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif rerdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu frasa, kata atau klausa yang dihubungkan oleh : baik .... maupun, tidak .... tetapi.
  3. Konjungsi Antarkalimat: yaitu konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi jenis ini selalu membuat kalimat baru, tentu saja dengan huruf kapital di awal kalimat. Contoh : Biapun begitu, akan tetapi ....
  4. Konjungsi Subordinatif: yaitu konjungsi yang menghubungkan 2 klausa atau lebih dan klausa itu merupakan anak kalimat. Konjungsi ini terbagi lagi menjadi 12 kelompok, yaitu:
    1. Konjungsi subordinatif waktu : sejak, semenjak, sedari, sewaktu.
    2. Konjungsi subordinatif syarat : jika, jikalau, bila, kalau.
    3. Konjungsi subordinatif pengandaian : seandainya, seumpama.
    4. Konjungsi subordinatif konsesif : biarpun, sekalipun.
    5. Konjungsi subordinatif pembandingan : seakan-akan, seperti.
    6. Konjungsi subordinatif sebab : sebab, karena, oleh sebab.
    7. Konjungsi subordinatif hasil : sehingga, sampai.
    8. Konjungsi subordinatif alat : dengan, tanpa.
    9. Konjungsi subordinatif cara : dengan, tanpa.
    10. Konjungsi subordinatif komplementasi : bahwa.
    11. Konjungsi subodinatif atribut : yang
    12. Konjungsi subordinatif perbandingan : sama ... dengan, lebih ... dari.
  • Artikula (kata sandang): ialah jenis kata yang mendampingi kata benda atau yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang tidak mengandung suatu arti tapi memiliki fungsi. Fungsi kata sandang sendiri ialah untuk menentukan kata benda, mensubstansikan suatu kata yang besar, yang jangkung, dan lain-lain. Kata-kata sandang umum yang terdapat dalam Bahasa Indonesia ialah yang, itu, -nya, si, sang, hang, dang. Kata-kata sandang seperti sang, hang, dang banyak ditemui dalam kesusastraan lama, sekarang sudah tidak terpakai lagi terkecuali kata sandang sang. Kata sandang sang terkadang masih dipergunakan untuk mengagungkan atau untuk menyatakan ejekan maupun ironi. Dalam Bahasa Indonesia terdapat beberapa kelompok artikula, yaitu:
1.      Artikula yang bersifat gelar ialah artikula yang bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis artikula yang bersifat gelar : sang, hang, dang, sri.
2.      Artikula yang mengacu ke makna kelompok / makna korelatif ialah kata para. Karena artikula ini bermakna ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai ialah para guru bukan para guru-guru.
3.      Artikula yang menominalkan. Artikula si yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, tergantung pada konteks kalimat.
  • Interjeksi (kata seru): ialah kata yang mengungungkapkan perasaan. Macam-macam kata seru yang masih dipakai hingga sekarang ialah :
  1. Kata seru asli, yaitu : ah, wah, yah, hai, o, oh, nah, dll.
  2. Kata seru yang berasal dari kata-kata biasa, artinya kata seru yang berasal dari kata-kata benda atau kata-kata lain yang digunakan, contoh : celaka, masa', kasihan, dll.
  3. kata seru yang berasal dari beberapa ungkapan, baik yang berasal dari ungkapan Indonesia maupun yang berasal dari ungkapan asing, yaitu : ya ampun, demi Allah, Insya Allah, dll.
  • Partikel Penegas: ialah kategori yang meliputi kata yang tidak tunduk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas, yaitu: -lah, -kah, -tah & pun.

sholat sunat rowatib



I. Pengertian sholat sunnah rawatib

Shalat sunat rawatib adalah shalat sunnat yang mengikuti atau mengiringi shalat fardhu lima waktu dan merupakan shalat sunnat yang senantiasa dikerjakan oleh Rosulullah SAW baik sebelum shalat fardhu maupun sesudah shalat fardhu. 
Shalat sunat rawatib itu sendiri jika dilihat dari segi waktu mengerjakannya, maka dapat di bagi menjadi dua yaitu shalat sunnat rawatib Qobliyah dan sholat sunnat rawatib Ba’diyah. Dan jika dilihat dari segi hukumnya, maka shalat sunnat rawatib dapat dibagi menjadi dua yaitu sunnat rawatib mu’akkad dan rawatib ghoiru mu’akkad.
II. Anjuran Shalat Sunnah Rawatib
Rasulullah SAW bersabda : “Pertama kali amal (perbuatan) yang dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat (nanti) adalah shalat, maka jika (ternyata) shalat itu baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika (ternyata) shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah (jeleklah) seluruh amalnya”.

Dan Sabdanya lagi : “Pada tiap antara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah) setelah mengatakan tiga kali, bagi siapa yang mau mengerjakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dua hadist tersebut memberikan pengertian pada kita bahwa kita dituntut untuk menyempurnakan dan memperbaiki shalat fardhu kita, karena besok pada hari hisab (amal-amal manusia diteliti) dan shalatlah yang menjadi tolak ukur baik dan buruknya amal seseorang, maka apabila shalatnya baik, maka akan baiklah seluruh amal lainnya. Dan sebaliknya apabila shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah seluruh amalnya. Oleh karena itu kita disyariatkan (diperintahkan) mengerjakan, shalat sunnah setelah disyariatkan shalat fardhu yang lima waktu, untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan dari shalat fardhu yang kita kerjakan hingga jadi sempurna seperti yang kita harapkan. Dan merupakan perintah shalat Qobliyah, yaitu setiap antara adzan dan iqamat diperintahkan mengerjakan shalat sunnah.

III. Keutamaan Sholat Rawatib

Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga“. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728).
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)
Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.
Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)
IV. Macam macam shalat sunnat rawatib
  • Shalat sunnat rawatib mu’akkad
Shalat sunnat rawatib muakkad adalah shalat sunnat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Berikut ini adalah yang termasuk dalam shalat sunnat rawatib mu’akkad : 
  • Dua rakaat sebelum shalat Zhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat Zhuhur
  • Dua rakaat sesudah shalat Maghrib
  • Dua rakaat sesudah shalat isya’
  • Dua rakaat sebelum shalat shubuh
  • Dua rakaat sesudah shalat Jum’at
Hal ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW di dalam sabdanya yang telah di riwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umam ra. Yaitu : 

“ Saya menghafalkan 10 rakaat ( shalat sunnat ) dari Nabi SAW yaitu dua rakaat qobliyah (sebelum) Zhuhur, dua rakaat ba’diyah (sesudah) Zhuhur, dua rakaat ba’diyah (sesudah) maghrib di rumahnya, dua rakaat ba’diyah (sesudah) isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat subuh “ ( HR Imam Bukhari dan Muslim dan riwayat lain dari dua rawi tersebut yaitu disebutkn “ Dan dua rakaat ba’diyah jumat di rumahnya”. )

Berdasarkan sabda Rasulullah tersebut maka jelaslh bahwa shalat sunnat rawatib paling utama itu adalah di kerjakan di dalam rumah. Sebagaimana yang telah di jelaskan oleh Rasulullah SAW di dalam sabdanya yang artinya :

“Shalatlah kamu di rumahmu , sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat fardhu “.

Secara umum shalat sunnat rawatib memiliki banyak keistimewaan atau keutamaan dan manfaat yang sangat besar sekali. Yaitu sebagaimana yang telah diterangkan dalam sabda rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu majjah yang artinya sebagai berikut :

“ Sesungguhnya perkara yang pertama kali yang akan diperhitunhkan adalah dari seorang hamba muslim pada hari kiamat (nanti) adalah shalat fardhunya. Jika ia melakukannya dengan sempurna maka sempurnalah semu amal perbuatannya. Tetapi jika tidak, dikatakan (kepada para malaikat) “Perhatikanlah apakah ia mengerjakan dari salah satu shalat sunnat (rawatibnya). Jika ia mengerjakan shalat sunnat (rawatibnya) shalat fardhunya menjadi sempurnakarena shalat sunnat (rawatibnya). Kemudian seluruh amal fardhunya diperlakukan seperti itu pula”.
Dan untuk lebih jelasnya lagi mengenai shalat sunnat Rawatib yang termasuk dalam sunnat muakkad, maka disni akan kami uraikan secara sngkat satu per satu.
  • Shalat sunnat Qobliyah subuh
Shalat sunnat qobliyah subuh itu memiliki keistimewaan dan keutamaan yang sangat besar sekali , yaitu bagi orang yang mau mengerjakannya akan mendapatkan pahala yang sangat besar sekali. Dimana kebesaran itu lebih baik dari bumi dan seluruh isinya. Sebagaimana yang telah di tegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya.

Shalat sunnat rawatib Qobliyah subuh ini dikerjakan dengan dua rakaat sebelum melakukan shalat subuh ( setelah masuk waktu shalat subuh ). Dan mengenai cara mengeerjakannya, itu sama saja dengan mengerjakan shalat fardhu ataupun shalat shalat lainnya baik gerakannya maupun bacaanya. Hanya saja niatnya saja yang berbeda. Adapun surat yang dibaca pada rakaatnya tidak ditentukan secara resmi, akan tetapi lebih baik juka membaca surat alkaafirun pada rakaat pertama dan sutar al ikhlas pada rakaat ke-duanya. Adapun lafadz niat shalat sunnat rawatib qobliyah subuh yaitu :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijCMMqpNgUMW9XNgwQhWrOyU8UipCYLSrmcVEdFEM7qNPY2SN_PUsLwvCsDn4e1dFKv7FFck0d-L7BceBkI9PxlcxtDkNwjEqtFuBw5EKExfbhXdxZzXT_A7T5oGRImj3fWGMRbThYfXKl/s400/140+b.JPG
Artinya:"Aku (niat) shalat sunat qabliyyah subuh 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."

·      Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد).”  (HR. Muslim no. 726)
Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca: (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا) (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: (آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون) (QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727)
  • Shalat sunnat Qobliyah Zhuhur
Sama halnya dengan shalat sunnat Qobliyah subuh, shalat sunnat qobliyah zhuhur pun meiliki banyak keistimewaan dan keutamaan. Diantaranya yaitu :
  • Bagi yang mau melaksanakan shalat sunnat qobliyah zhuhur sebanyak empat rakaat dan di ikuti empat rakaat sesudahnya, maka ia akan di jauhkan oleh Allah SWT oleh siksa api neraka. Sebagaimana yang telah di terangkan oleh Rasulullah SAW di dalm sabdanya.
  • Dapat menjadikan amal sholeh yang akan segera naik ke langit. Karena pada waktu itu yaitu waktu dimana matahari mulai tergelincir pintu pintu langit di buka. Sebagaimana yang telah di jelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya :
“ bahwa Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat 4 rakaat setelah matahari tergelincir sebelum shalat zhuhur dan beliau bersabda : sesungguhnya inilah saatnya, pintu pintu langit dibuka, maka dari itu aku ingin agar yang naik dari diriku pada saat ini adalah amal yang shalih “ ( HR imam Tarmidzi dai Abdullah bin Saib ra )
  • Bagi seseorang yang senantiasa mengerjakan shalat sunnat qobliyah zhuhur empat rakaat maka ia akan mendapat pahala seperti pahala mengerjakan shalat sunnat tahajjud. Adapun lafadz niat shalat sunnat qobliyah zhuhur sebagai berikut :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4T4-9FaxpQnrAwsnCxcCXVq6DXcP4bRsR_gSEgRHte4BHNjChBObfYzmmRbo_42u0Lbz-azAp_3mT5ndY95UqCUzC5cNKAzaEICUT920XTreUfRMVlGG4aSeDLV-igLLKi61yUcRlE9Dd/s400/138+a.JPG
Artinya:Aku (niat) shalat sunat qabliyyah zhuhur 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."
  • Shalat sunnat ba’diyah zhuhur
Shalat sunnat ba’diyah zhuhur memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan seperti halnya mengerjakan shalat sunnat qobliyah zhuhur. Yaitu seseorang yang senantiasa mengerjakan empat rakaat shalat sunnat ba’diyah zhuhur maka ia akan dijauhkan oleh Allah SWT dari siksa api neraka. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya :

“ Barang siapa yang menetapi dengan baik shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya maka Allah mengharankannya dari api neraka “ ( HR Imam tarmidzi, Abu awud, Ibnu Majjah, dan Imam Nasa’i bersumber dari Ummu Habibah )
 Shalat sunnat Ba’diyah Zhuhur ini dikerjakan dengan dua rakaat atau empat rakaat setelah mengerjakan shalat zhuhur. Namun bagi yang mengerjakan shalat jum’at , maka shalat ba’diyah zhuhurnya diganti dengan shalat ba’diyah jum’at. Adapun niat shalat sunnat ba’diyah zuhur yaitu sebagai berikut :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaqkBEXz3vy9Yz9mJX0HYgUxEZAdZb5oYuzoEbPDKTRn_gVpS1gK0C0WckfZYsqOmVVyMhmya6R1q5Ynz49QeOoMA6X3cTObUentfRZgtExIIvIH2YEomrkrtSb5GQKHo28BJNKQKcS4V5/s400/138+b.JPG
Artinya: ' '"Aku (niat) shalat sunat ba'diyyah zhuhur 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."


  • Shalat sunnat Ba’diyah Maghrib
Shalat sunnat ba’diyah maghrib dikerjakan setelah memasuki waktu shalat maghrib setelah shalat maghrib. Shalat sunnat ba’diyah maghrib dikerjakan sebanyak dua rakaat dan ang lebih utama dikerjakan di rumah. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bersumber dari Ibnu Umar ra katanya : 

“ Saya menghafalkan 10 rakaat ( shalat sunnat ) dari Nabi SAW yaitu dua rakaat qobliyah (sebelum) Zhuhur, dua rakaat ba’diyah (sesudah) Zhuhur, dua rakaat ba’diyah (sesudah) maghrib di rumahnya, dua rakaat ba’diyah (sesudah) isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat subuh “ ( HR Imam Bukhari dan Muslim dan riwayat lain dari dua rawi tersebut yaitu disebutkn “ Dan dua rakaat ba’diyah jumat di rumahnya”. )
Adapun lafadz niat shalat sunnat ba’diyah maghrib adalah sebagai berikut :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0O_ZdBz0aQKuwi59r1dQ5rBKPn_fKIzR29O-ICvauvmiFBncSh6bl5igX48S08JmOPjzt4ATzMtnlzPkYkk-ROL8-OAW4-dZy53KW2M7kJicJp-oeK_5TJPAwEtGqRufCECgWNdVgRAe8/s400/139+c.JPG
Artinya:"Aku (niat) shalat sunat ba'diyyah maghrib 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."

·      Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد). (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166)
  • Shalat sunnat ba’diyah ‘Isya
Shalat sunnat ba’diyah ‘Isya dilaksanakan setelah mengerjakan sholat fardhu ‘isya sebanyak dua rakaat atau empat rakaat. Dimana mengerjakan shalat badiah isya itu mempunyai keistimewaan dan keutamaan yang sangat besar. Yaitu bagi orang orang yang senantiasa mengerjakannya akan mendapat pahala seperti pahalanya orang yang mengerjakan shalat tahajjud pada malam lailatul qodar. 
Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya :
“ Barang siapa yang mengerjakan shalat 4 rakaat sebelum shlat ahuhur , dia seperti mengerjakan shalat tahajjud pada malam hari, dan barang siapa yang mengerjakan shalat 4 rakaat sesudah shalat isya dia seperti mengerjakan shalat tahajjud pada malam lailatul qodar.” (HR Imam Sa’id bin Mansur, dan Al Barra’ bin Azib ra )
Adapun lafadz niat shalat sunnat ba’diah isya itu adalah sebagai berikut :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWW4a8xBs9k4TyOsiwp-dhyphenhyphen08U1JKHVPQoXlFfhGaGnNE70F52JrJMeTWwDcQq2hc0gLlGTsCDpjnBsPq9yPY_BWYXKnlezB-nCj-JteoXIEjHXTEb7dhvB7LWQR2wdisdtHnsjDeVCXJJ/s400/140+a.JPG
 Artinya:"Aku (mat) shalat sunat ba'diyyah isya 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."

·         Sholat Rawatib Qobliyah Jum’at

As-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz rahimahullah berkata: “Tidak ada sunnah rawatib sebelum sholat jum’at berdasarkan pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama’. Akan tetapi disyari’atkan bagi kaum muslimin yang masuk masjid agar mengerjakan sholat beberapa rakaat semampunya” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 12/386&387)

·         Sholat Rawatib Ba’diyah Jum’at

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah sesudahnya empat rakaat“. (HR. Muslim no. 881)
As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun sesudah sholat jum’at, maka terdapat sunnah rawatib sekurang-kurangnya dua rakaat dan maksimum empat rakaat” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 13/387)
  • SHALAT SUNNAT RAWATIB GHOIRU MU’AKKAD
Shalat sunnat rawatib ghoiru mu’akkad adalah shalat sunnat yang tidk begitu diutmkan atau tidak dianjurkan untuk dikerjakan. Memang shalat sunnat Rawatib Ghoiru Muakkad ini mempunyai keistimewaan dan keutamaan yang besar sebagaimana yang sunnat muakkad , namun tidak sebesar atau seutama yang sunnat muakkad. 
Adapun yang termasuk dalam bagian shalat sunnat rawatib ghoiru muakkad adalah :
  • Empat rakaat sebelum shalat ashar
  • Dua rakaat sebelum shalat maghrib dan
  • Empat atau enam rakaat sebelum shalat isya
Dan untuk lebih jelasnya lagi maka baiklah akan kami uraikan satu persatu sebagaimana berikut
  • Shalat sunnat qobliah ashar
Shalat sunnat qobliah ashar dilakukan setelah masuk waktu shalat ashar sebelum mengerjakan shalat ashar sebanyak dua rakaat atau empat rakaat. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dari sahabat Ali ra yang artinya :
“ Bahwa Nabi SAW biasa mengerjakan shalat sebelum melaksanakan shalat Ashar 2 rakaat “
Di dalam shalat sunnat qabliah Ashar memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan , diantaranya yaitu
·      Bagi eseorang yang selalu mengerjakannya sebanyak 4 rakaat, maka ai akan diselamatkan dari siksa api neraka. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya :
“ barang siapa yang mengerjakan shalat 4 rakaat sebelum mengerjakan shalat Ashar, Allah haramkan tubuhnya dari api neraka. “
  • Akan mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT orang yang selalu mengerjakan empat rakaat qabliah ashar. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Admad, Abu Dawud dan Imam Tarmidzi dari sahabat Ibnu Umar ra yang artinya :
“ Semoga Allah SWT memberi rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat Ashar “
Adapun lafazh niat shalat sunnat qabliah Ashar adalah sebagai berikut :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyVVGLKCBpGdmKeAJ2kfuGtVdrqTofpuplmHaS5pVmcuU_f-Wkw9UA-DcOQtO6-s5f83MNdzKOW-QEhRjqXFYo-wxjmeuj0guL9BD0gfBKWdWfABs6ux1F_ER2fJ8L11yp03LcZjt1orsQ/s400/139+a.JPG
Artinya:
" Aku (niat) shalat sunat qabliah ashar 2 rakaat, karena Allah Ta'ala."
  • Shalat sunnat qabliah maghrib
Shalat sunnat qabliah maghrib dikerjakan setelah masuk waktu shalat maghrib sebelum mengerjakan shalat maghrib , sebanyak dua rakaat. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam sabda Nabi SAW yang artinya :
“ Shalatlah kalian dua rakaat sebelum mengerjakan shalat maghrib , Shalatlah kalian dua rakaat sebelum mengerjakan shalat maghrib , Shalatlah kalian dua rakaat sebelum mengerjakan shalat maghrib , bagi siapa saja yang mau “, (tetapi beiau tidak mengerjakannya) karena khawatir dijadikan sebagai kebiasaan oleh manusia”. ( HR Imam Bukhari dan Abu Dawud, bersumber dari Abdullah Al Muzani ra )
Adapun lafazh niat shalat sunnat qabliah Maghrib itu adalah :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwVzaVKxvqcTbZagtS0-emOxrByJiiHcdLLu-HubNbpoXH0rgBtkk6AF9xSvzaA7LEXey-kQF_uLWRQHAT5hbUKK3Rz3tmueHjZGzA7SWC1Be_C73VF9ZWwVxynyUZje1-H6pbkOGnJN2x/s400/139+b.JPG
Artinya: " .'
"Aku (niat) shalat sunat qabliyyah maghrib 2 rakaat, karena Allah Ta'alar
  • Shalat sunnat qabliah isya
Shalat sunnat qabliah isya dikerjakan sebelummengerjakan shalat isya sebanyak empat rakaat atau enam rakaat. Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud yang bersumber dari Sayyidah Aisyah ra. Katanya : “ Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mengerjakan shalat qabliah isya, melainkan beliau masuk rumahnya terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat empat rakaat atau enam rakaat sebelumnya” . Adapun lafazh niat shalat sunnat qabliah isya itu adalah sebagai berikut :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9beQ8tQzEK2gVwq1zJCqLHnf6FDMGwPGtVCVxeILrjZ0K3oRgOfZV41_o9yX6L-aLUf64uQLywrtyg3CDXclbbePPWDzP3i6KdwwwfCJCZyus5Wa6h1omkYuJGKl1LdwrbQsrUSOTl_HT/s400/139+d.JPG
Artinya:
"Aku (niat) shalat sunat qabliyyah isya 2 rakaat, karena Allah Ta'ala
V. Doa sesudah shalat sunnat rawatib
Setiap selesai mengerjakan shalat , baik shalat fardhu maupun shalat sunnat hendaknya kita memperbanyak berzikirdan berdoa kepada Allah SWT. Kaerena waktu sesudah shalat adalah salah satu dari waktu waktu yang mustajab untuk berdoa memohon kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga , dunia dan akhirat.

Rifa’I Moh, Drs. 1976. Risalah Tuntunan Sholat Lengkap.Semarang;PT. Karya Toha Putra Semarang