1. Kerajaan Kutai
Kerajaan
Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia, kerajaan ini didirikan pada
tahun 400 M, di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Nama Kutai diberikan
oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang
menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas
menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat
diperoleh.
Informasi
yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal
dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli
dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang
berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para brahman atas
kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti
kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa
raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat
dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum
brahmana.
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja
Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja
Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa
Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang
saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute).
Kutai Kartanegara inilah, pada tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.
Kutai Kartanegara inilah, pada tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.
Raja-raja yang memerintah ialah :
- Maharaja Kudungga(raja pertartama),
- Maharaja Aswamarman,
- Maharaja Mulawarman,
- Maharaja Marawijaya Warman
- Maharaja Gajayana Warman
- Maharaja Tungga Warman
- Maharaja Jayanaga Warman
- Maharaja Nalasinga Warman
- Maharaja Nala Parana Tungga
- Maharaja Gadingga Warman Dewa
- Maharaja Indra Warman Dewa
- Maharaja Sangga Warman Dewa
- Maharaja Candrawarman
- Maharaja Sri Langka Dewa
- Maharaja Guna Parana Dewa
- Maharaja Wijaya Warman
- Maharaja Sri Aji Dewa
- Maharaja Mulia Putera
- Maharaja Nala Pandita
- Maharaja Indra Paruta Dewa
- Maharaja Dharma Setia
2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara merupakan
kerajaan Hindu, didirikan pada tahun 450 M, di Jawa Barat. Kata tarumanagara
berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara
sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang
membelah Jawa Barat yaitu Citarum. Pada muara Citarum ditemukan percandian yang
luas yaitu Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga merupakan
peradaban peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Raja yang memerintah ialah
Pernawarman.
Beberapa prasasti yang menunjukan
keberadaan Kerajaan Tarumanegara, antara lain :
- Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor.
- Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
- Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
- Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor.
- Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor.
- Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor.
- Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor.
3. Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kaling didirikan pada tahun
674 di Jepara, Jawa Tengah. Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber
Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah
sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan
berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara
sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan
diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita
Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung
secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh.
Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari
sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang
dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Raja yang memerintah ialah Ratu Sima. Pendeta yang terkenal ialah
Jhanabhadra.
4. Kerajaan Sriwijaya
Adalah salah satu kemaharajaan
bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di
Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta membentang dari Kamboja,
Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa
Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau
"gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau
"kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang
gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari
abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi
Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang
paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti
Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh Sriwijaya
terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di
antaranya tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, India dan
Serangan dari Raja Kertanegara dari Singasari, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan
Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.
Setelah jatuh, kerajaan ini terlupakan dan keberadaannya baru diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient.
Raja-raja yang memerintah
ialah:
- Sri Jayanaga
- Balaputradewa
- Sri Sangrawijayatunggawarman.
- Guru agama Buddha yang terkenal ialah Sakyakirti
5. Kerajaan Melayu
Kerajaan Melayu berdiri hampir
bersamaan dengan Kerajaan Sriwijaya, tetapi pada tahun 692 kerajaan ini telah
dikuasai Sriwijaya.
6. Kerajaan Mataram Hindu
Kerajaan Mataram Hindu berdiri di
Jawa Tengah dengan ibukota Medang Kamulan.
Raja-raja yang memerintah ialah
:
- Sanna
- Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Ratu Sanjaya
- Rakai Panangkaran, yang bergelar Syailendra Sri Mahraja Dyah Pancapana Rakai Panangkarana
Setelah memerintah Rakai
Panangkaran, Mataram pecah menjadi dua. Sebagai pemeluk agama Buddha, sebagai
pemeluk agama Hindu. Syailendra Buddha berkuasa di Jawa Tengah Selatan,
Syailendara Hindu berkuasa di sekitar pegunungan Dieng. Pada masa pemerintahan
Rakai Pikatan, Mataram disatukan kembali
Raja-raja yang selanjutnya ialah
:
- Belitung yang bergelar Rakai Watukara
- Daksa
- Tulodong
- Wawa
- Mpu Sendok.
7. Kerajaan Wangsa Isyana
Mpu Sendok memindahkan pusat
pemerintahan Syailendra Ke Jawa Timur pada tahun 929, kemudian membentuk wangsa
baru, yaitu Wangsa Isyana.
Raja-raja yang memerintah :
- Mpu Sendok, bergelar Maharaja Rake Hino Sri Isyana Wikramadharmotunggadewa
- Sri Isyanatunggawijaya
- Makutawangsawardhana
- Darmawangsa, bergelar Sri Darmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa
- Airlangga, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Tahun 1401 kerajaan kahuripan di
bagi menjadi dua 2 (tugas pembagian di serahkan kepada Mpu Bharada), yaitu
:
- Janggala atau Singasari, dengan ibukota Kahuripan
- Panjalu atau Kediri, dengan ibukota di Daha.
8. Kerajaan Kediri
Kerajaan Janggala di perintah oleh
Raja Mapanji Garakasan. Kerajaan Kediri di perintah oleh raja Sri Samarawijaya.
Perebut kekuasaan antara jenggala dan kediri berlangsung sampai tahun1520.
Selanjutnya selama kurang lebih setengah abad ke dua kerajaan tersebut tidak
disebut-sebut lagi dalam sejarah. Tahun 117 kerajaan ini tampil lagi dengan
rajanya : *
- Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Kameswara
- Jaya baya, bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji jaya Jayabaya Pada masa itu, kitab Baharata Yudha di gubah oleh Mpu sedihdan di lanjutkan Mpu Panuluh (Mpu Sedah meninggalkan sebelum kitabnya selesai)
- Mpu Penuluh juga menulis buku Hariwangsa dan Gatutkacasraya
- Sri Aryeswara
- Kameswara, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawarata.
Pujangga yang terkenal pada masa itu
adalah
- Mpu Tanakung, karyanya Werasancaya dan Lubdaka
- Mpu Darmaja, karyanya Smaradhahana.
Kerajaan Kediri runtuh pada tahun
1222, karena ditaklukkan oleh Ken Arok.
9. Kerajaan Bali
A. Raja-raja Wangsa Warmadewa Salah
satu wangsa terkenal yang memerintah di Bali ialah Wangsa Warmadewa. Raja yang
terkenal ialah :
- Tri Candrabhaysingka Warmadewa
- Udayana, bergelar Dhamodayana Warmadewa. Udayana, berputra tiga orang yaitu : Airlangga, yang menjadi menantu Raja Dharmawangsa, dan kemudian menjadi raja Kahuripan (kerajaan wangsa Isyana). Marataka, yang menggantikan Udayana (tetapi tidak terkenal). Anak Wungsu, yang menggantikan tahta Marataka tahun 1049
- Dari pemerintahan Anak Wungsu di tinggalkan 28 buah prasasti Singkat, yang antara lain di temukan di goa Gajah, Gunung Kawi (Tampak Siring), Gunung Panulisan, dan Sangit.
B. Raja-Raja Lain di Bali Sesudah
pemerintahan wangsa Warmadewa, Pulau Bali di perintah oleh raja-raja lain yang
berganti-ganti, dan yang terkenal di antaranya :
- Jayasakti, mempunyai kitab undang-undang yaitu uttara Widhi Balawan dan Rajawacana (1133 – 1150)
- Jayapangus, menggunakan kitab undang-undang Manawasasa nadharma (117 – 1181).
Tahun 1284 Kerajaan Bali di taklukan
oleh Kertanegara dari Singa-sari.
10. Kerajaan Singasari
Riwayat dan pemerintahan Ken Arok
serta raja-raja Singasari terdapat dalam buku Pararaton dan negara kertagama.
Raja-raja yang memerintah ialah :
- Ken Arok. Ken Arok menjadi raja Singasari setelah membunuh Tumapel Tunggul Ametung dan menaklukkan Kerajaan Kediri tahun 1222 di Ganter. Ken Arok sebagai pendiri dan raja pertama di Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian keturunannya terkenal dengan sebutan wangsa Rajasa.
- Anusapati (anak Tunggul Ametung - Ken Dedes). Anusapati menjadi raja Setelah membunuh Ken Arok (ayah tirinya), dengan menyuruh seorang pengalasan (budak).
- Tohjaya (anak Ken Arok - Ken Umang). Tohjaya menjadi raja setelah membunuh Anusapati. Tahun 1248 timbul pemberontakan yang dilancarkan oleh: Ranggawuni (anak Anusapati) dan Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongaleleng atau cucu Ken Arok dan Ken dedes).
- Ranggawuni. Bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana 1248 - 1268. Wisnuwardhana memerintah Singasari bersama-sama Mahisa Cempaka sebagai Ratu Anggabaya, yaitu pejabat tinggi yang bertugas menanggulangi bahaya yang mengancam kerajaan, gelarnya Narasinghamurti.
- Kertanegara. Bergelar Srimaharajadhiraja Sri Kartanegara (1269 – I292), merupakan raja Singasari yang terbesar. Tahun 1275 dikirimnya ekspedisi Pamalayu. Daerah-daerah yang ditaklukkannya antara lain Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (Maluku) serta mengadakan hubungan persahabatan dengan Jaya Singawarman - Raja Campa. Tahun 1292 di taklukan oleh Jayakatwang dari Kediri.
11. Kerajaan Majapahit
-#Kertarajasa, Jayawardhana (1292-1309).
Didirikan oleh Raden Wijaya (anak
Lembu Tal atau cucu Mahisa Campaka) pada tahun 1292 setelah memperdayai bala
tentara Kubilai Khan dan Cina yang bermaksud menghukum Raja Jawa yang telah
menghina utusannya yaitu Meng Ki pada masa pemerintahan Kertanegara di
Singasari. Karena Kertanegara telah dihancurkan oleh Jayakatwag dari Kediri,
maka bala tentara Kubilai Khan menghancurkan Kediri. Yang selanjutnya atas
siasat Raden Wijaya di bantu oleh Arya Wiraraja, bala tentara Cina dapat
dihancurkan oleh Raden Wijaya. Akhirnya Raden wijaya menjadi Raja Majapahit
pertama dengan gelar Kertarejasa Jayawardhana. Raden Wijaya memperistri 4 orang
putri Kertanegara, yaitu :
- Tribuana, sebagai permaisuri
- Gayatri. yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit
- Narendraduhita
- Prajnaparamita.
Tahun 1309 Raja Kertarajasa wafat,
meninggalkan tiga orang putra:
- Jayanegara (dari permaisuri)
- Sri Gitarya (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Kahuripan
- Dyah Wiyat (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Daha.
#Sri Jayanegara (1309 - 1329).
Jayanegara menggantikan ayahandanya
dengan gelar Sri Jayanegara. Pada masa pemerintahannya timbul pemberontakan,
yaitu :
- Pemberontakan Ranggalawe dari Tuban
- Pemberontakan Sora, pada tahun 1311
- Pemberontakan Nambi, pada tahun 1316
- Pemberontakan Kuti, pada tahun 1319. lbukota Majapahit berhasil diduduki dan raja Jayanegara mengungsi ke desa Bedander dikawal oleh 15 orang pengawal setia (pasukan Bhayangkari) di bawah pimpinan Gajah Mada. Atas usaha Gajah Mada ibukota dapat direbut lagi, dan kembali Jayanegara bertahta, Atas jasanya Gajah Mada diangkat menjadi patih Kahuripan dan kemudian Kediri.
Dalam pemerintahannya Raja
Jayanegara menggunakan lambang Minadwaya (dua ekor ikan).
#TribhuwanaTunggadewi (1328
-1350)
Jayanegara wafat tidak meninggalkan
putra, maka Gayatri atau Rajapatni berhak menjadi raja. Karena Gayatri telah
menjadi bhiksuni (pendeta agama Buddha), maka diwakilkan kepada Sri Gitarya,
Bhre Kahuripan yang bergelar Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana. Timbul
pemberontakan Sadeng, yang dapat dipadamkan oleh Gajah Mada, karena jasanya
pada tahun 1331 Gajah Mada diangkat menjadi perdana menteri, yang pada saat
pelantikannya mengucapkan Sumpah Palapa.
Tahun 1350 Gayatri atau Rajapatni
wafat, Tribuwana yang mewakilinya menyerahkan kekuasaan itu pada anaknya
bernama, Hayam Wuruk.
#Rajasanegara (1350 -13891)
Hayam Wuruk naik tahta pada usia 16
tahun, bergelar Rajasanegara, merupakan raja terbesar dalam sejarah Majapahit
dengan Gajah Mada sebagai Mahapatih. Kekuasaannya meliputi seluruh Kepulauan
Nusantara, bahkan masih ditambah dengan Tumasik (Singapura) dan Semenanjung
Melayu. Karya sastra yang terkenal diantaranya :
- Negarakertagama karya Mpu Prapanca
- Sutasoma atau Parusadashanta dan
- Arjunawijaya karya Mpu Tantular.
Tahun 1364 Gajah Mada wafat,
kedudukannya diganti oleh 4 orang menteri. Tahun 1389 Hayam Wuruk Wafat.
#Wikramawardhana (1389 - 1429)
Hayam Wuruk dengan permaisurinya
hanya mempuyai seorang putri yaitu Kusumawardhani yang selanjutnya memerintah
bersama suaminya Wikramawudhana yang masih saudara sepupunya. Bhre Wirabumi,
anak dari selir diberi kekuasaan memerintah daerah Blambangan, merasa tidak
puas, dan merasa lebih berhak atas tahta Majapahit.
Tahun 1401 - 1406 timbul perang
saudara antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana. Bhre Wirabumi gugur (Perang
Paregreg). Tahun 1429 Wikramawurdhana wafat, Majapahit telah menjadi kerajaan
kecil akibat dari satu persatu daerahnya melepaskau diri. Tahun 1478 Bhatara
Prabu Girindrawardhana raja Daha merebut Majapahit dari Raja Kertabumi (Raja
Majapahit yang terakhir).
12. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai adalah kerajaan Islam
Nusantara yang pertama. Letaknya di Aceh Utara (sekarang masuk Kabupaten
Lhoksumawe) berdiri abad 13.
Raja-rajanya ialah :
- Sultan Malik al Saleh.tahun 635 Hijriah atau l297 Masehi
- Sultan Muhammad bergelar Sulatan Malik al Tathir.
13. Kerajaan Demak
- Raden Patah(±1500 -1518). Pada awal 1500 seorang Bupati Demak yang memeluk agama Islam yaitu Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit. Dibantu para ulama Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak. Selanjutnya Demak berkembang menjadi pusat pengembangan agama Islam. Tahun 1511 hubungan Demak dengan Malaka terputus karena Malaka dikuasai Portugis. Tahun 1513 armada Demak dibawah pimpinan Pati Unus menyerang malaka tetapi gagal.
- Pati Unus (1518 - l 521) Pati Unus terkenal dengan sebutan pangeran sabrang Lor, hanya tiga tahun menjadi raja.
- Sultan Trenggana (1521 - 1546) Sultan Trenggana adalah menantu Pati Unus. Tahun 1522 mempercayai seorang ulama dari Pasai (Faletehan) untuk memimpin armada Demak merebut Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon dari Pajajaran. Tahun 1546 Sultan Trenggana gugur dalam usahanya menaklukan Pasuruan. Setelah itu timbul perebutan kekuasaan antara Sunan Prawata (putra sulung Sultan Trenggana) dengan Pangeran Sekar (adik Sultan Trenggana). Sunan Prawata naik tahta setelah membunuh Pangeran Sekar, tak lama kemudian Sunan Prawata dibunuh oleh Arya Penangsang (anak Pangeran Sekar).
14. Kerajaan Pajang
Jaka Tingkir (menantu Sultan Trenggana),
berhasil membinasakan Arya Penangsang atas bantuan Kyai Ageng Pemanahan. Jaka
tingkir naik tahta bergelar Adiwijaya dan memindahkan pusat Kerajaan Demak ke
Pajang. Kerajaan Pajang tidak lama berdiri. Setelah Sultan Adiwijaya wafat
terjadi perebutan kekuasaan. Arya Pangiri (anak Sunan Prawata) mencoba merebut
di gagalkan Pangeran Benawa (anak Sultan Adiwijaya) dibantu Sutawijaya (anak
Kyai Ageng Pemanahan). Pangeran Benawaa merasa tidak sanggup menggantikan ayah
handanya, maka menyerahkan kekuasaan kepada Sutawijaya, yang kemudian
memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.
15. Kerajaan Mataram Islam.
Sutawijaya lebih dikenal dengan
Panambahan Senapati. Panembahan Senapati wafat tahun 1601. Kesultanan Mataram
adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17.
Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng
Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa
Majapahit. Asal-usulnya adalah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, berpusat
di "Bumi Mentaok" yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai
hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama adalah Sutawijaya (Panembahan
Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan.
Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.
Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku hingga sekarang.
Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.
Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku hingga sekarang.
16. Kerajaan Banten
Setelah Faletehan merebut Banten,
Sunda Kelapa, dan Cirebon, maka dialah yang menguasainya. Karena di Demak
timbul perebutan kekuasaan maka pada tahun 1522 Faletehan menyerahkan Banten
kepada putranya Hasanuddin sebagai raja Banten yang pertama dan Faletehan
memusatkan perhatiannya pada agama Islam di Gunung Jati, Cirebon. adalah sebuah
kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten, Indonesia. Berawal
sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan
pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian
menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan.
Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.
Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhir runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintanannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.
Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.
Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhir runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintanannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.
Raja-raja yang lain ialah :
- Pangeran Yusuf (1570)
- Maulana Muhammad (baru berusia 9 tahun), tahun 1596 gugur dalam usahanya menyerang Palembang
- Abdulmufakir (baru berusia 5 tahun), pemerintahan dikendalikan oleh Mangkubumi Jayanegara.
17. Kerajaan Malaka
Kerajaan Malaka tidak terletak di
kawasan Nusantara.
Raja-rajanya ialah :
- Paramisora, pelarian dari Majapahit, yang telah masuk lslam, yang telah diganti nama Sultan Iskandar Syah
- Sultan Mansyur Syah
- Sultan Mahmud Syah
Tahun 1511. Malaka jatuh ke tangan
Portugis.
18. Kerajaan Aceh
Pada awal abad 16 masih merupakan
kerajaan kecil, di bawah kekuasaan Pedir. Raja-rajanya ialah :
- Sultan Ibrahim. Aceh melepaskan diri dari Kerajaan Pedir. Aceh semakin maju karena Malaka di kuasai oleh Portugis, sehingga pedagang Islam dari Arab dan Gujarat mengalihkan perdagangannya ke Aceh.
- Sultan Iskandar Muda (1607-1639). Pada pemerintahannya Aceh mencapai puncak ketayaannya.
19. Kerajaan Ternate
Berdiri kira-kira Abad ke 13. Abad
14 Ternate Menjadi Kerajaan Islam. Masa Pemerintahan Sultan Baabullah Ternate
Mencapai puncak kejayaannya. Tahun 1575 Sultan Baabullah Mengusir Portugis Dari
Maluku. Baabullah bergelar yang di pertuan di 72 pulau, meluaskan wilayahnya
sampai Filipina.
20. Kerajaan Tidore
Merupakan kerajaan Islam di Maluku.
Sempat diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, untuk berselisih dengan Kerajaan
Ternate, tetapi berbalik kembali bahkan bersama-sama mengusir bangsa Portugis
dari Maluku. Rajanya yang terkenal adalah Sultan Nurku, yang gigih berjuang
mengusir Belanda. Wilayahnya meliputi Halmahera. Seram, Kai, dan, sampai
Papua.
21. Kerajaan Makasar
Pada abad ke 16 di Sulawesi Selatan
terdapat dua kerajaan, yaitu Goa dan Tailo. Kedua kerajaan itu bersatu dengan
nama Goa-Tailo, atau Makasar dengan ibu kota sombaopu, sebagai kerajaan Islam
pertama di Sulawesi. Raja-rajanya ialah :
- Raja Goa Daeng Manribia dengan gelar Sultan Alaudin. Mangkubuninya adalah raja Tailo Karaeng Matoaya bergelar Sultan Abdullah
- Sultan Hasanuddin, masa pemerintahannya mencapai puncak kejayaan
22. Kerajaan Banjar
Dengan bantuan Kerajaan Demak, abad
ke-76 Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan menaklukan Daha (sebuah kerajaan di
pedalaman Kalimantan) Banjar adalah kerajaan Islam, dengan rajanya Raden
Samudra yang Telah masuk Islam Berganti Nama Sultan Suryanullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar