Untukmu Yang Tengah Mendiamkanku
Mengenalmu, aku menemukan kesempurnaan dalam dirimu yang membuatku
nyaman.
Tak terasa, ratusan hari kulalui dengan indah, tanpa seharipun terlewati
untuk sekedar bertanya “apa kabar?” .
Tahukah kamu ? aku serasa sedang bermimpi bisa mengenalmu, pria sempurna
yang menggenapkan segala kekuranganku.
Bersamamu berbagi canda, tawa, diskusibanyak hal.
Kamu selayaknya dosen semua mata kuliah untukku.
Meski beberapa orang terdekat mengatakan hubungan ini layaknya “mission
imposible” karena banyaknya perbedaan, juga jarak yang membentang , namun aku
begitu yakin padamu.
Ikatan batin kita begitu kuat hingga banyak perbedaan yang dapat
disatukan.
Apa arti semua ini? Apakah kita sejalan ?
Aku nyaman bersamamu, bahkan dalam ketidakjelasan hubungan ini.
Apakah kita terjebak dalam friendzone? Atau sebenarnya saling memendamp
perasaan?
Entahlah .
Sampai saat inipun aku tak dapat mendefinisikan hubungan ini.
Yang pasti ada rasa sayang meski tak berkata, rasa cemburu meski tak
terucap, bahagia, rindu yang selalu ada di hati, curiga selayaknya sepasang
kekasih.
Yang berbeda adalah kata jadian dari mulut kita.
Semua mengalir begitu saja.
Kadang ingin ku tanyakan perasaanmu yang sesungguhnya.
Namun aku takut semua berubah .
Rasa takut kehinlangan apa yang
susah payah ku bangun bersamamu.
Meski aku sadar, pohon waktu semakin tinggi, bukan saatnya lagi berdiam
dalam hubungan yang abu – abu.
Namun sekali lagi, aku takut menanyakan ini padamu.
Aku membiarkan semua pertanyaan dalam benakku menguap begitu saja.
Aku mengikuti setiap irama yang kau ciptakan dalam hubungan ini.
Jujur, kamu sosok yang kaku dimata wanita.
Kau bahkan ceritakan padaku, dirimu bukan sosok romantis seperti dalam
novel yang sering aku baca.
Bukan cowok yang bisa setiap saat menanyakan sedang apa, dimana? Atau
buru – buru menelpon saat kangen.
Kamu cenderung diam dan cuek.
Namun aku selalu berusaha memahamimu, selama kita bisa berkomunikasi
dengan baik, segala perbedaan, jarak nyaris tak terasa.
Aku paham caramu membalas pesan kadang lama, paham betapa cueknya kamu
dengan orang yang dekat atau tergila – gila padamu.
Aku bisa menjadi sosok yang kamu percaya untuk berbagi saja aku bahagia.
Namun semuanya berubah ketika entah untuk alasan apa tiba – tiba kamu
mendiamkanku.
Tak sekalipun kamu balas chatku bahkan apapun.
Semua cara telah ku ĉoba untuk memahamimu.
Meskipun gadgetmu aktif, tetap saja belum kamu baca pesanku hingga saat
ini.
Dulu pernah kamu bersikap seperti ini.
Namun pada akhirnya , kamu membalas pesanku seolah – olah tak pernah
terjadi apa – apa.
Namun entah mengapa kali ini berbeda.
Kau terlalu lama diam.
Jika dulu aku bisa melewati fase- fase yang kau lakukan padaku.
Apakah kali ini aku sanggup?
Jika kau mendiamkanku terlalu lama, apa yakin ini adalah sebuah ujian?
Jika hari telah berganti bulan, dan kau masih tetap dengan diammu, tanpa
sekalipun merespon pesankua atau membalas chatku, apakah aku sanggup
melaluinya?
Aku berusaha semampuku untuk memendam semua kecurigaan padamu.
Aku berusaha seolah tak terjadi apapun.
Tetap menyapamu, menanyakan kabarmu, mengingatkan agendamu, mengirimkan
gambar – gambar lucu untuk menghiburmu.
Tak sedikitpun berkurang perhatianku padamu, masih sama seperti dulu.
Namun sedikitpun kau tak bergeming.
Hingga berbagai tanya tanya muncul dalam benakku “apa salahku?”
Aku mengecek kata demi kata terakhir kita berkirim pesan.
Semua normal takada keganjilan.
Yang ganjil justru sikapmu padaku saat ini.
Sampai kapan kau akan menghukumku dengan diammu ini?
Seandainya jarak hanya sejengkal, mungkin aku sudah ada dihadapanmu,
mencoba membicarakan semua keganjilan ini agar tak lagi menyesakkan dadaku.
Lama aku berfikir.
Hingga nyaris berada di ujung kesabaranku.
Baiklah.
Jika berbagai usahaku tak juga menggerakan hatimu, berarti memang aku
harus pasrah sebari memohon pada-Nya untuk memberikan yang terbaik bagiku,
bagimu, bagi kita.
Ada satu status teman yang membuatku tersentak ‘’cinta itu dibutuhkan
usaha dari kedua belah pihak. Jika hanya kamu yang berusaha, berarti dia tak
mencintaimu’’
Untukmu yang tengah mendiamkanku, jika memang ini sinyalmu untuk
menjauhiku, baiklah.
Dan seandainya ini ujian darimu tuk meyakinkan dirimu tentangku, sampai
kapan ujian ini berakhir?
Apakah setelah ini aku bisa naik kelas dari status abu – abu menjadi
milikmumseutuhnya?
Only God knows....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar