Senin, 05 Januari 2015

psikologi



secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
              Mengenai konstan tidaknya inteligensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian yang bermacam-macam dapat dikemukakan bahwa inteligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang di duga semula. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Intitut Fels menurut McCall, dkk. (1973) menunjukan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butir antara usia 5-17 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau di pekerjaan. Selanjutnya, diketemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupakan hal yang umum (biasa) daripada perkecualian.
a.      Peranan Pengalaman dari Sekolah terhadap Inteligensi

             Sejauh mana pengalaman sekolah meningkatkan inteligensi anak? Penelitian tentang pengaruh taman indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Rata-rata tingkat IQ asal mereka adalah di atas 110. Mereka yang mengalami presekolah sebelum sekolah dasar, menunjukkan perbedaan kemajuan atau "gained", dalam rata-rata IQ mereka lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada pra-sekolah) adalah sebesar 5,4 skala IQ per seorang siswa. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-siswa yang tidak memasuki prasekolah sebelumnya, yaitu menunjukkan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai IQ sebesar 0,5 skala IQ perseorang siswa. Perubahan ini akan menjadi lebih tinggi lagi bila mereka lebih lama bersekolah pada prasekolah. Siswa-siswa yang selama dua atau tiga tahun belajar di prasekolah, menunjukkan kenaikan perkembangan inteligensinya masing-masing sebesar 10,5 skala IQ. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh di sekolah menyumbangkan secara positif terhadap peningkatan IQ anak.

b. Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Inteligensi

             Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan inteligensi cukup besar, seperti telah dibuktikan berbagai korelasi IQ yang juga menggambarkan bagaimana peranan belajar terhadap perkembangan inteligensi (Rochman Natawijaya dan M. Musa, 1992:45)










Tabel
Berbagai Korelasi Inteligensi (IQ)
Apabila anak kembar satu telur (twins) diasuh bersama dalam lingkungan yang sama, IQ mereka akan lebih mirip sama dibandingkan dengan apabila mereka diasuh terpisah oleh lingkungan yang berbeda. Demikian juga bila dijumlahkan anak yang berbeda dipelihara bersama dalam lingkungan yang sama, terdapat korelasi yang cukup bermakna (+0,24) antara IQ mereka. Kesimpulannya adalah, dalam kasus tidak terdapat hubungan genetik, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kesamaan IQ adalah karena kesamaan pengalaman belajar dari lingkungan yang sama.
Studi penting lainnya dilakukan oleh Garber dan Ware (1970) (Rochman Natawijaya dan M. Musa, 1992: 45) yang menghubungkan antara "kualitas lingkungan rumah anak" dan perkembangan "inteligensi" anak. Hubungan keduannya ditemukan dalam bentuk korelasi sebesar +0,43. Dengan menggunakan instrumen Human Environment Review (HER), sebanyak 133 lingkungan rumah dikunjungi. Kesimpulannya adalah semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi juga IQ anak. Penelitian ini menemukan tiga unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh, yaitu:
a. Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.
b. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya.
c. Harapan orangtua akan prestasi akademik anaknya.
Disamping itu, variasi dalam stimulus adalah bagian penting dari lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Bila pengalaman awal masa kanak-kanak banyak diisi dengan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba, maka perkembangan berikutnya akan ditunjang oleh kemauan yang selalu menginginkan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba. Kapasitas ini menjadi kunci bagi perkembangan kognitif anak. Pengalaman yang padat pada awal pertumbuhan menurut Bloom, adalah kunci untuk mencapai perkembangan inteligensi. Pengalaman yang lampau terutama pengalaman dari rumah, merupakan unsur lingkungan yang amat menentukan bagi perkembangan intelektual. Karena itu tampaknya sangat tidak bijaksana bila orang bersikap deterministik terhadap keadaan inteligensi. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tingkah laku orang, juga tingkah laku inteligensi tidak seluruhnya ditentukan. Ada kemungkinan-kemungkinan untuk dapat dipengaruhi.

5. Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan Intelek

Seperti diketahui, manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, juga tentang inteligensinya. Inteligensi itu sendiri oleh David Wechler (1958) didefinisikan sebagai "keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif."
:Nilai IQ yang dihasilkan dari pengukuran inteligensi pada anak umur tertentu akan menghasilkan sebaran nilai yang membentuk sebaran normal (normal distribution) dengan rata-rata 100 dan simpangan baku 15.
Sebaran nilai IQ terrebut menunjukan adanya perbedaan individual tentang kemampuan berpikirnya, tiap-tiap orang tidak sama. Berdasarkan nilai IQ atau kecerdasannya manusia dapat dikategorikan menjadi 6 kelompok, yaitu:
1) dibawah 70, anak mengalami kelainan mental;
2) 71 - 85, anak dibawah normal (bodoh);
3) 86 - 115, anak yang normal;
4) 116 - 130, anak di atas normal (pandai);
5) 131 - 145, anak yang superior (cerdas); dan
6) 145 ke atas anak genius (istimewa).
Di antara berbagai skala IQ yang diajukan oleh berbagai ahli, yang paling banyak digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Wechler dan Bellevue (Sarlito, 1991 : 78). Mereka menyatakan bahwa kalau semua orang di dunia diukur inteligensinya maka akan terdapat orang-orang yang sangat cerdas yang sama banyaknya dengan orang-orang yang sangat rendah tingkat berpikirnya (terbelakang), orang-orang yang superior sama banyaknya dengan orang-orang yang tergolong perbatasan (borderline). Sedangkan yang terbanyak adalah orang-orang yang tergolong berinteligensi rata-ratat atau normal. Kalau dijabarkan nilai IQ dan klasifikasinya adalah sebagai berikut.
Pengukuran IQ seperti yang dilakukan oleh Wechler dan Bellevue tersebut diatas diarahkan pada satu teori bahwa ada yang dinamakan faktor umum (General Factor) pada inteligensi itu. General faktor inilah yang diukur dengan IQ tersebut. Dengan demikian, orang yang ber-IQ 120, misalnya akan berpenampilan sama dengan orang-orang yang ber-IQ yang 120 juga. Kalau ada perbedaan maka hal itu disebabkan oleh faktor-faktor lain diluar inteligensi, seperti: minat, pengalaman, sikap, dan sebagainya.

            Spearman menyatakan bahwa disamping faktor umum (General Factor & G-factor) ada juga faktor khusus (Special Factor & S-factor) di dalam inteligensi itu sendiri. Faktor khusus inilah yang menyebabkan orang-orang ber-IQ sama, yang seorang lebih te-rampit dalam bidang angka-angka sehingga ia menjadi ahli matematika, sedangkan seorang yang lain lebih fasih dalam kemampuan lisan sehingga ia menjadi ahli bahasa (Sarlito, 1991 : 79).
Sarjana lain, seperti Thurstone, mengatakan bahwa faktor umum itu tidak ada, yang ada hanya sekelompok faktor khusus yang diberi nama Kemampuan Mental Primer yang terdiri dari 7 faktor yaitu: (i) kemampuan verbal (verbal comprehention), (ii) kemampuan angka-angka (numerical ability), (iii) tilikan keruangan, (iv) kemampuan pengindraan, (v) ingatan, (vi) penalaran, dan (vii) kelancaran berbahasa.
Thomson tidak setuju dengan faktor-faktor yang disebutkan Thurstone. Ia berpendapat bahwa faktor umum dalam inteligensi tidak ada, tetapi yang ada hanyalah sejumlah faktor khusus yang berbeda-beda dari orang ke orang lain dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Faktor-faktor itu sedemikian banyaknya, tetapi yang berfungsi pada saat-saat tertentu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan faktor yang ada.
Menurut Piaget, inteligensi mempunyai beberapa sifat:

1) Inteligensi adalah interaksi aktif dengan lingkungan.
2) Inteligensi meliputi struktur organisasi perbuatan dan pikiran, dan interaksi yang bersangkutan antara individu dan lingkungannya.
3) Struktur tersebut dalam perkembangannya mengalami perubahan kualitatif.
4) Dengan bertambahnya usia, penyesuaian diri lebih mudah karena proses keseimbangan yang bertambah luas.
5) Perubahan kualitatif pada inteligensi timbul pada masa yang mengikuti suatu rangkaian tertentu.

             Sebagai kesimpulan dari berbagai pendekatan/teori psikologi yang telah dikemukakan, menunjukkan bahwa inteligensi itu bersifat individual, artinya antara satu dan lainnya tidak sama persis kualitas IQ-nya.
6. Usaha-Usaha dalam Membantu Mengembangkan Intelek Remaja dalam Proses Pembelajaran

             Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Bruner, siswa pada usia ini belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang makin canggih. Guru dapat membantu mereka melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan keterampilan proses (discovery approach) dan dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi.
Karena siswa usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, kita hendaknya tidak mempunyai anggapan bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama dengan kita. Kita hendaknya tetap waspada terhadap bagaimana para siswa menginterpretasi ide-ide ereka dalam kelas, dengan memberikan kesempatan untuk mengadakan diskusi secara baik dan dengan memberikan tugas-tugas penulisan makalah.
Juga, kita hendaknya mengamati kecenderungan-kecenderungan remaja untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak terkendali. Agaknya cara yang baik dalam mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantu siswa menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tetapi bila permasalahan-permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks dengan bobot emosi yang cukup dalam, memang bukan merupakan tugas yang mudah.
Pada usia ini para remaja mendekati efisiensi intelektual yang maksimal, tetapi kurangnya pengalaman membatasi pengetahuan mereka dan kecakapannya untuk memanfaatkan apa yang diketahui. Karena banyak hal yang dapat dipelajari hanya melalui pengalaman, para siswa mungkin mengalami kesuli an dalam menangkap dan memahami konsep-konsep yang abstrak dan mungkin tidak mampu memahami sepenuhnya emosi-emosi yang dilukiskan dalam novel-novel, drama-drama, dan puisi-puisi. Karena itu pada tingkatan ini diperlukan metode diskusi dan informasi untuk menentukan kedalaman pengertian siswa. Apabila gurt dihadapkan pada perbedaan-perbedaan interpretasi tentang konsep-kosep yang abstrak, guru hendaknya menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan sabar, simpatik, dan dengan hati terbuka; bukan dengan jalan marah-marah atau tidak bisa menerima kesalahan-kesalahan siswa.
Meskipun rentangan perhatian para siswa dapat sangat lama, masih ada kecenderungan untuk melamun. Kecenderungan berfantasi dan "memimpikan hal-hal yang agung/serba bagus" dapat saja terjadi karena siswa kurang mempunyai pengalaman dalam hal-hal yang nyata/kenyataan hidup dan juga karena kesempatan untuk mengadakan penjelajahan dalam fantasi terbatas. Guru hendaknya memberikan tugas-tugas yang menantang imajinasi dengan bermacam-macam cara. Guru dapat menyajikan teka-teki yang menarik dan menantang rasa ingin tahu atau problema-problema daripada latihan-latihan yang membosankan. Misalnya guru dapat memberi tugas menulis dengan topik: "Macam binatang yang saya inginkan jika ada reinkarnasi," daripada judul: "Binatang kesenangan saya", atau judul: "Jenis-jenis pekerjaan yang diinginkan serta faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut," dan sebagainya.
Kebudayaan remaja atau "teen-age culture" perlu diperhatikan. Popularitas sosial mendapat penghargaan yang lebih tinggi daripada studi akademis. Kalau begitu bagaimana cara membangkitkan minat remaja terhadap pendidikan intelektual?
Motivasi untuk belajar sering diusahakan melalui angka-angka, kenaikan kelas, dan ujian-ujian. Hingga di manakah cara-cara seperti itu mampu memupuk minat yang berkepanjangan terhadap pelajaran? Untuk jangka waktu pendek mudah dibangkitkan minat dengan berbagai alat audio visual pada siswa yang sudah biasa menonton saja secara pasif. Yang perlu diusakan adalah timbulnya minat jangka panjang yang besifat interistik. Menimbulkan minat serupa itu ditengah-tengah masyarakat yang menyajikan rangsangan yang lebih menarik bagi siswa seperti tontonan, permainan, dan bentuk rekreasi lain, sungguh-sungguh merupakan suatu tantangan. Untuk itu, kita usahakan agar bahan pelajaran itu sendiri mempunyai nilai intrinsik, yang mengandung nilai atau makna bagi remaja. Kita berusaha agar dalam proses belajar mengajar para siswa turut terlibat secara aktif. Untuk itu dikembangkan atau digunakan pendekatan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk menentukan sendiri. Pendekatan semacam itu kita kenal sebagai pendekatan keterampilan proses atau metode penemuan dan inkuiri.
B. Bakat Khusus

              Merupakan kenyataan yang berlaku di mana-mana bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, antara lain dalam inteligensi, bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, dan perilaku sosial. Ada kalanya seseorang lebih cekatan dalam satu bidang kegiatan dibandingkan dengan orang lain. Dalam bidang tertentu ia mungkin menunjukan keunggulannya dibandingkan dengan orang lain.
Tidak dapat dipungkiri pula bahwa ada perbedaan antara individu satu dengan yang lain dalam tingkat kemampuan atau prestasi mereka dalam bidang musik, seni, mekanik, pidato, kepemimpinan dan olahraga serta bidang-bidang lain. Sejauh mana perbedaan-perbedaan itu dibawa sejak lahir atau hasil dari latihan atau pengalaman, akan merupakan topik yang menarik dan sangat penting.
Program pendidikan hendaknya dirancang tidak hanya memperhatikan kemampuan untuk belajar tetapi juga perlu mempertimbangkan kecakapan khusus atau bakat yang dimiliki siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar