secara kira-kira karena
selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-faktor individual
dan situasional.
Mengenai konstan tidaknya inteligensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian yang bermacam-macam dapat dikemukakan bahwa inteligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang di duga semula. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Intitut Fels menurut McCall, dkk. (1973) menunjukan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butir antara usia 5-17 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau di pekerjaan. Selanjutnya, diketemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupakan hal yang umum (biasa) daripada perkecualian.
Mengenai konstan tidaknya inteligensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian yang bermacam-macam dapat dikemukakan bahwa inteligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang di duga semula. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Intitut Fels menurut McCall, dkk. (1973) menunjukan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butir antara usia 5-17 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau di pekerjaan. Selanjutnya, diketemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupakan hal yang umum (biasa) daripada perkecualian.
a.
Peranan
Pengalaman dari Sekolah terhadap Inteligensi
Sejauh mana pengalaman sekolah meningkatkan inteligensi anak? Penelitian tentang pengaruh taman indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Rata-rata tingkat IQ asal mereka adalah di atas 110. Mereka yang mengalami presekolah sebelum sekolah dasar, menunjukkan perbedaan kemajuan atau "gained", dalam rata-rata IQ mereka lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada pra-sekolah) adalah sebesar 5,4 skala IQ per seorang siswa. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-siswa yang tidak memasuki prasekolah sebelumnya, yaitu menunjukkan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai IQ sebesar 0,5 skala IQ perseorang siswa. Perubahan ini akan menjadi lebih tinggi lagi bila mereka lebih lama bersekolah pada prasekolah. Siswa-siswa yang selama dua atau tiga tahun belajar di prasekolah, menunjukkan kenaikan perkembangan inteligensinya masing-masing sebesar 10,5 skala IQ. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh di sekolah menyumbangkan secara positif terhadap peningkatan IQ anak.
b. Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Inteligensi
Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan inteligensi cukup besar, seperti telah dibuktikan berbagai korelasi IQ yang juga menggambarkan bagaimana peranan belajar terhadap perkembangan inteligensi (Rochman Natawijaya dan M. Musa, 1992:45)
Tabel
Berbagai
Korelasi Inteligensi (IQ) 

Apabila
anak kembar satu telur (twins) diasuh
bersama dalam lingkungan yang sama, IQ mereka akan lebih mirip sama
dibandingkan dengan apabila mereka diasuh terpisah oleh lingkungan yang berbeda.
Demikian juga bila dijumlahkan anak yang berbeda dipelihara bersama dalam
lingkungan yang sama, terdapat korelasi yang cukup bermakna (+0,24) antara IQ
mereka. Kesimpulannya adalah, dalam kasus tidak
terdapat hubungan genetik, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kesamaan IQ adalah
karena kesamaan pengalaman belajar dari lingkungan yang sama.
Studi
penting lainnya dilakukan oleh Garber dan Ware (1970) (Rochman Natawijaya dan
M. Musa, 1992: 45) yang menghubungkan antara "kualitas lingkungan rumah
anak" dan perkembangan "inteligensi" anak. Hubungan keduannya
ditemukan dalam bentuk korelasi sebesar +0,43. Dengan menggunakan instrumen Human Environment Review (HER), sebanyak
133 lingkungan rumah dikunjungi. Kesimpulannya
adalah semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi juga
IQ anak. Penelitian ini menemukan tiga unsur penting dalam keluarga yang amat
berpengaruh, yaitu:
a. Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.
b. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya.
c. Harapan orangtua akan prestasi akademik anaknya.
a. Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.
b. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya.
c. Harapan orangtua akan prestasi akademik anaknya.
Disamping
itu, variasi dalam stimulus adalah bagian penting dari lingkungan dan belajar
untuk perkembangan inteligensi anak. Bila pengalaman awal masa kanak-kanak
banyak diisi dengan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba, maka
perkembangan berikutnya akan ditunjang oleh kemauan yang selalu menginginkan
variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba.
Kapasitas ini menjadi kunci bagi perkembangan kognitif anak. Pengalaman yang
padat pada awal pertumbuhan menurut Bloom, adalah kunci untuk mencapai
perkembangan inteligensi. Pengalaman yang lampau terutama pengalaman dari
rumah, merupakan unsur lingkungan yang amat menentukan bagi perkembangan
intelektual. Karena itu tampaknya sangat tidak bijaksana bila orang bersikap
deterministik terhadap keadaan inteligensi. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan
bahwa tingkah laku orang, juga tingkah laku inteligensi tidak seluruhnya
ditentukan. Ada kemungkinan-kemungkinan untuk dapat dipengaruhi.
5.
Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan Intelek
Seperti diketahui,
manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, juga tentang
inteligensinya. Inteligensi itu sendiri oleh David Wechler (1958) didefinisikan
sebagai "keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak
secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan
secara efektif."
:Nilai IQ yang dihasilkan dari pengukuran inteligensi pada anak umur tertentu akan menghasilkan sebaran nilai yang membentuk sebaran normal (normal distribution) dengan rata-rata 100 dan simpangan baku 15.
:Nilai IQ yang dihasilkan dari pengukuran inteligensi pada anak umur tertentu akan menghasilkan sebaran nilai yang membentuk sebaran normal (normal distribution) dengan rata-rata 100 dan simpangan baku 15.

Sebaran
nilai IQ terrebut menunjukan adanya perbedaan individual tentang kemampuan
berpikirnya, tiap-tiap orang tidak sama. Berdasarkan nilai IQ atau
kecerdasannya manusia dapat dikategorikan menjadi 6 kelompok, yaitu:
1) dibawah 70, anak mengalami kelainan mental;
2) 71 - 85, anak dibawah normal (bodoh);
3) 86 - 115, anak yang normal;
4) 116 - 130, anak di atas normal (pandai);
5) 131 - 145, anak yang superior (cerdas); dan
6) 145 ke atas anak genius (istimewa).
1) dibawah 70, anak mengalami kelainan mental;
2) 71 - 85, anak dibawah normal (bodoh);
3) 86 - 115, anak yang normal;
4) 116 - 130, anak di atas normal (pandai);
5) 131 - 145, anak yang superior (cerdas); dan
6) 145 ke atas anak genius (istimewa).
Di
antara berbagai skala IQ yang diajukan oleh berbagai ahli, yang paling banyak
digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Wechler dan Bellevue (Sarlito,
1991 : 78). Mereka menyatakan bahwa kalau semua orang di dunia diukur
inteligensinya maka akan terdapat orang-orang yang sangat cerdas yang sama
banyaknya dengan orang-orang yang sangat rendah
tingkat berpikirnya (terbelakang), orang-orang yang superior sama banyaknya
dengan orang-orang yang tergolong perbatasan (borderline). Sedangkan yang terbanyak adalah orang-orang yang
tergolong berinteligensi rata-ratat atau normal. Kalau dijabarkan nilai IQ dan
klasifikasinya adalah sebagai berikut.

Pengukuran
IQ seperti yang dilakukan oleh Wechler dan Bellevue tersebut diatas diarahkan
pada satu teori bahwa ada yang dinamakan faktor umum (General Factor) pada inteligensi itu. General faktor inilah yang
diukur dengan IQ tersebut. Dengan demikian, orang yang ber-IQ 120, misalnya
akan berpenampilan sama dengan orang-orang yang ber-IQ yang 120 juga. Kalau ada perbedaan maka hal itu disebabkan oleh faktor-faktor
lain diluar inteligensi, seperti: minat, pengalaman, sikap, dan sebagainya.
Spearman menyatakan bahwa disamping faktor umum (General Factor & G-factor) ada juga faktor khusus (Special Factor & S-factor) di dalam inteligensi itu sendiri. Faktor khusus inilah yang menyebabkan orang-orang ber-IQ sama, yang seorang lebih te-rampit dalam bidang angka-angka sehingga ia menjadi ahli matematika, sedangkan seorang yang lain lebih fasih dalam kemampuan lisan sehingga ia menjadi ahli bahasa (Sarlito, 1991 : 79).
Sarjana
lain, seperti Thurstone, mengatakan bahwa faktor umum itu tidak ada, yang ada
hanya sekelompok faktor khusus yang diberi nama Kemampuan Mental Primer yang
terdiri dari 7 faktor yaitu: (i) kemampuan verbal (verbal comprehention), (ii) kemampuan angka-angka (numerical ability), (iii) tilikan
keruangan, (iv) kemampuan pengindraan, (v) ingatan, (vi) penalaran, dan (vii)
kelancaran berbahasa.
Thomson
tidak setuju dengan faktor-faktor yang disebutkan Thurstone. Ia berpendapat
bahwa faktor umum dalam inteligensi tidak ada, tetapi yang ada hanyalah
sejumlah faktor khusus yang berbeda-beda dari orang ke orang lain dari waktu ke
waktu pada orang yang sama. Faktor-faktor itu sedemikian banyaknya, tetapi yang
berfungsi pada saat-saat tertentu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan
faktor yang ada.
Menurut
Piaget, inteligensi mempunyai beberapa sifat:
1) Inteligensi adalah interaksi aktif dengan lingkungan.
2) Inteligensi meliputi struktur organisasi perbuatan dan pikiran, dan interaksi yang bersangkutan antara individu dan lingkungannya.
3) Struktur tersebut dalam perkembangannya mengalami perubahan kualitatif.
4) Dengan bertambahnya usia, penyesuaian diri lebih mudah karena proses keseimbangan yang bertambah luas.
5) Perubahan kualitatif pada inteligensi timbul pada masa yang mengikuti suatu rangkaian tertentu.
Sebagai kesimpulan dari berbagai pendekatan/teori psikologi yang telah dikemukakan, menunjukkan bahwa inteligensi itu bersifat individual, artinya antara satu dan lainnya tidak sama persis kualitas IQ-nya.
6.
Usaha-Usaha dalam Membantu Mengembangkan Intelek Remaja dalam Proses
Pembelajaran
Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Bruner, siswa pada usia ini belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang makin canggih. Guru dapat membantu mereka melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan keterampilan proses (discovery approach) dan dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi.
Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Bruner, siswa pada usia ini belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang makin canggih. Guru dapat membantu mereka melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan keterampilan proses (discovery approach) dan dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi.
Karena
siswa usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, kita
hendaknya tidak mempunyai anggapan bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama
dengan kita. Kita hendaknya tetap waspada terhadap bagaimana para siswa
menginterpretasi ide-ide ereka dalam kelas, dengan memberikan kesempatan untuk
mengadakan diskusi secara baik dan dengan memberikan tugas-tugas penulisan
makalah.
Juga,
kita hendaknya mengamati kecenderungan-kecenderungan remaja untuk melibatkan
diri dalam hal-hal yang tidak terkendali. Agaknya cara yang baik dalam
mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantu siswa
menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Tetapi bila permasalahan-permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks
dengan bobot emosi yang cukup dalam, memang bukan merupakan tugas yang mudah.
Pada
usia ini para remaja mendekati efisiensi intelektual yang maksimal, tetapi
kurangnya pengalaman membatasi pengetahuan mereka dan kecakapannya untuk
memanfaatkan apa yang diketahui. Karena banyak hal yang dapat dipelajari hanya
melalui pengalaman, para siswa mungkin mengalami kesuli an dalam menangkap dan
memahami konsep-konsep yang abstrak dan mungkin
tidak mampu memahami sepenuhnya emosi-emosi yang dilukiskan dalam novel-novel,
drama-drama, dan puisi-puisi. Karena itu pada tingkatan ini diperlukan metode
diskusi dan informasi untuk menentukan kedalaman pengertian siswa. Apabila gurt
dihadapkan pada perbedaan-perbedaan interpretasi tentang konsep-kosep yang
abstrak, guru hendaknya menjelaskan konsep-konsep tersebut dengan sabar,
simpatik, dan dengan hati terbuka; bukan dengan jalan marah-marah atau tidak
bisa menerima kesalahan-kesalahan siswa.
Meskipun
rentangan perhatian para siswa dapat sangat lama, masih ada kecenderungan untuk
melamun. Kecenderungan berfantasi dan "memimpikan hal-hal yang agung/serba
bagus" dapat saja terjadi karena siswa kurang mempunyai pengalaman dalam
hal-hal yang nyata/kenyataan hidup dan juga karena kesempatan untuk mengadakan
penjelajahan dalam fantasi terbatas. Guru hendaknya memberikan tugas-tugas yang
menantang imajinasi dengan bermacam-macam cara. Guru dapat menyajikan teka-teki
yang menarik dan menantang rasa ingin tahu atau problema-problema daripada
latihan-latihan yang membosankan. Misalnya guru dapat memberi tugas menulis
dengan topik: "Macam binatang yang saya inginkan jika ada
reinkarnasi," daripada judul: "Binatang kesenangan saya", atau
judul: "Jenis-jenis pekerjaan yang diinginkan serta faktor-faktor yang
perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut," dan
sebagainya.
Kebudayaan
remaja atau "teen-age culture"
perlu diperhatikan. Popularitas sosial mendapat penghargaan yang lebih tinggi
daripada studi akademis. Kalau begitu bagaimana cara membangkitkan minat remaja
terhadap pendidikan intelektual?
Motivasi
untuk belajar sering diusahakan melalui angka-angka, kenaikan kelas, dan
ujian-ujian. Hingga di manakah cara-cara seperti itu mampu memupuk minat yang
berkepanjangan terhadap pelajaran? Untuk jangka waktu pendek mudah dibangkitkan
minat dengan berbagai alat audio visual pada siswa yang sudah biasa menonton
saja secara pasif. Yang perlu diusakan adalah timbulnya minat jangka panjang
yang besifat interistik. Menimbulkan minat serupa itu
ditengah-tengah masyarakat yang menyajikan rangsangan yang lebih menarik bagi
siswa seperti tontonan, permainan, dan bentuk rekreasi lain, sungguh-sungguh merupakan
suatu tantangan. Untuk itu, kita usahakan agar bahan pelajaran itu sendiri
mempunyai nilai intrinsik, yang mengandung nilai atau makna bagi remaja. Kita
berusaha agar dalam proses belajar mengajar para
siswa turut terlibat secara aktif. Untuk itu dikembangkan atau digunakan
pendekatan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk menentukan sendiri.
Pendekatan semacam itu kita kenal sebagai pendekatan keterampilan proses atau
metode penemuan dan inkuiri.
B.
Bakat Khusus
Merupakan kenyataan yang berlaku di mana-mana bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, antara lain dalam inteligensi, bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, dan perilaku sosial. Ada kalanya seseorang lebih cekatan dalam satu bidang kegiatan dibandingkan dengan orang lain. Dalam bidang tertentu ia mungkin menunjukan keunggulannya dibandingkan dengan orang lain.
Merupakan kenyataan yang berlaku di mana-mana bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, antara lain dalam inteligensi, bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, dan perilaku sosial. Ada kalanya seseorang lebih cekatan dalam satu bidang kegiatan dibandingkan dengan orang lain. Dalam bidang tertentu ia mungkin menunjukan keunggulannya dibandingkan dengan orang lain.
Tidak
dapat dipungkiri pula bahwa ada perbedaan antara individu satu dengan yang lain
dalam tingkat kemampuan atau prestasi mereka dalam bidang musik, seni, mekanik,
pidato, kepemimpinan dan olahraga serta bidang-bidang lain. Sejauh mana
perbedaan-perbedaan itu dibawa sejak lahir atau hasil dari latihan atau
pengalaman, akan merupakan topik yang menarik dan sangat penting.
Program
pendidikan hendaknya dirancang tidak hanya memperhatikan kemampuan untuk
belajar tetapi juga perlu mempertimbangkan kecakapan khusus atau bakat yang
dimiliki siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar